My site HomeSign UpLog In
Home » Articles » Artikel Hasil Kajian » Artikel PHW

Adikku Sayang, Adikku Malang

Kaki kecil tangan kecil tanpa alas kaki, mempercepat langkahnya ketika lampu sudah berganti merah, tiba-tiba ia menuju ke tengah hamparan kedaraan bermotor dengan hiruk pikuknya, dengan asap, debu, karbonmonoksida yang bermain-main di udara kala waktu itu. Panas terik matahari yang panasnya terasa sebagai sambaran di era global warming ini. Tangannya menepuk-nepuk dan bernyanyi dengan harapan pengendara yang dicegat lampu merah itu rela berbagi koin-koin yang dimilikinya. Satu lagi, kulihat dari kejauhan, ia membawa setumpuk lembaran dengan kertas abu-abu tipis itu, dengan tinta yang bertuliskan penderitaan rakyat setiap harinya. Koran, iya itu yang dibawanya. Aku miris, anak sekecil itu dibawah panasnya matahari, diatas hamparan aspal sudah berkeliaran ditempat yang seharusnya bukan untuk menjadi tempatnya bernaung, melainkan tempat yang penuh resiko seperti ini. Bagaimana kalau ada kendaraan bermotor melaju cepat menyerempetnya? Bagaimana kalau ada paku terinjak olehnya? Bagaimana kalau sinar ultraviolet matahari merusak jaringan kulitnya yang masih dalam tahap pertumbuhan.
            Oh adikku sayang, jalan raya bukan tempatmu. Lampu merah bukan waktu bagimu untuk berlari ditengah kerumunan kendaraan.
            Dan yang lebih menyedihkan, ketika koin yang diharapnya tidak diperolehnya, melainkan hanya lambaian tangan dan senyum miris yang didapatnya. Aku iba, namun apa yang bisa kulakukan? Memberinya koin-koin atau lembaran yang kumiliki bukanlah sebuah solusi. Aku takut dik, aku takut kamu semakin betah berada diatas aspal ini demi menunggu koin atau lembaran yang akan datang kemudian. Namun aku juga merasa sangat berdosa ketika memberikan apresiasi padamu dengan senyuman kecil. Lagu dan tepukan dari tangan kecilmu itu tidak sepadan bila hanya aku beri senyuman, kau berhak mendapat yang lebih, kau berhak mendapat pujian, permen, dan apapun yang kau suka. Kau berbakat dik, berani, memiliki talenta suara, ataupun talenta untuk berbisnis kelak. Namun sayang, jalan raya ini bukan tempatmu. Anak seusiamu seharusnya berada dalam ruangan, dan duduk dibangku warna-warni, bermain dan belajar dengan teman seusiamu yang lain, aku membayangkan betapa cerianya wajahmu ketika kamu berada ditempat yang sesuai seperti itu.
            Tapi apalah yang bisa kulakukan? Menginstruksi agar kamu pulang kerumah dan tidak bermain-main dijalanan bukan hak ku. Merangkulmu dan mengajakmu untuk berseragam dan  duduk di bangku warna-warni itu aku pun tidak mampu. Yang kumampu lakukan untukmu hanya berdoa kepada Yang Maha Adil, karena doa adalah bahasa cinta dan sayang yang bisa sampai padamu tanpa perlu kusuarakan.
            Semoga kelak aku bisa mampu merangkulmu dan mengajakmu untuk berseragam dan  duduk di bangku warna-warni. Kalau sekarang aku belum bisa mampu, semoga disana ada yang lain yang bermurah hati ketika berjumpa denganmu.

Category: Artikel PHW | Added by: ISMKIWIL3 (05.17.2014)
Views: 71 | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar
Monday, 11.19.2018, 2:55 AM
Site menu
Section categories
Artikel PHW [61]
Artikel Institusi [0]
Log In
Search
Site friends
  • Create a free website
  • uCoz Community
  • uCoz Textbook
  • Video Tutorials
  • Official Templates Store
  • Best Websites Examples
  • Statistics

    Total online: 1
    Guests: 1
    Users: 0
    Copyright MyCorp © 2018Create a free website with uCoz