My site HomeSign UpLog In
Home » Articles » Artikel Hasil Kajian » Artikel PHW

Kemanusiaan Dalam Kehidupan Sosial Semut

Untuk kesekian kalinya, pada hari ini aku belajar lagi dari semut. Binatang kecil itu berkali-kali memberikan pengajaran hidup padaku. Tentang kehidupan sosial mereka, saya benar-benar tercengang melihat apa yang mereka lakukan sore hari ini. Tidak menutup kemungkinan pada awal kehidupan manusia belajar dari mahluk kecil satu ini.

Bermula saat siang hari, entah apa yang merasuki pikiran saya pada siang hari itu, awalnya saya hanya ingin membetulkan posisi penutup atap di kamar saya, tetapi Tuhan berkehendak lain. Setelah atap kamar sudah sesuai pada posisinya, keinginan untuk merubah total penataan kamar pun muncul. Dalam beberapa jam pun saya berkutat memindahkan barang-barang dari berbagai tempat mencari posisi yang sesuai di kamar. Meskipun tak banyak tapi cukup menguras waktu dan tenaga mengingat semua yang ada di sana sudah cukup berdebu, maklum sudah lama belum sempat saya bersihkan lagi.

Ada satu sudut yang paling menarik bagi saya, apalagi kalau bukan tumpukan rak berbagai buku, mulai dari fiksi, non-fiksi, berbagai agama, buku kedokteran dan berbagai pengembangan kepribadian lain. Memandang ke sudut ini memberikan perasaan positif yang lumayan membantu apabila mood lagi jeblok.

Ketika hanyut dalam menata dan membersihkan kamar ini, banyak semut-semut kecil hitam berkeliaran kesana kemari, memang sengaja saya biarkan seperti itu, bahkan ketika tidak bersih-bersih pun sengaja saya biarkan mereka berkeliaran dikamar saya. Kadang mengganggu, kadang tak mengganggu.

Saya melakukan itu karena saya sadar betul bahwa kita hidup di dunia ini tidak sendiri, entah itu mahluk yang sejenis dengan saya atau berbeda, dimanapun kita berada kita tidak akan pernah terpisah dari mahluk lain di dunia ini, mereka akan membersamai kita begitu juga kita akan hadir ditengah-tengah mereka.

Boleh kalian menyebut saya gila, percaya atau tidak saya sering mengajak ngobrol kepada semut-semut yang tinggal dikamar saya, meskipun hanya obrolan satu arah tentu nya. Saya percaya mereka bisa mengerti dan menangkap maksud emosi dari perkataan saya, sehingga mereka bisa hidup berdampingan. Saya sering mengatakan “wahai semut-semut yang ada dalam kamarku, saya tidak akan mengganggumu jika kalian tak menggangguku, tapi jangan salahkan aku jika kalian melanggar perkataanku”. Terdengar aneh memang, tapi itulah yang saya lakukan.

Saat semua hampir selesai, tiba-tiba di tepian atap kamar, muncul rombongan semut yang cukup banyak, seakan sarang mereka berada di sana. Lalu saya mengatakan hal seperti diatas, tetapi mereka tak mendengarkan, mereka segera menyebar ke tempat yang tak seharusnya. Dengan berat hati cairan pembasmi serangga pun saya arahkan ke lubang keluar semut-semut ini. Tak lama kemudian banyak semut berjatuan di lantai.

Beberapa saat kemudian saat semua nya sudah selesai dan semut-semut tadi masih berjatuhan dilantai dan belum saya bersihkan lagi, muncul gerombolan semut yang baru, sesuai dengan janji saya jika mereka tidak mengganggu makan saya pun bersikap seperti itu. Saat itu mereka memilih untuk tidak mengganggu, dan disinilah saya terheran dengan apa yang mereka lakukan.

Mulanya semut yang keluar bisa dihitung dengan jari, mereka mendekati semut-semut yang sudah mati karena pembasmi serangga, lalu semakin banyak yang keluar dari sana. Setelah saya amati mereka membawa semut yang mati ini ke sarang nya di atas langit-langit, mereka membawa semua yang sudah mati ke rumah mereka.

Ada yang dua semut membawa satu semut, bahkan ada pula yang satu semut menggendong semut yang sudah mati sendirian kembali ke sarang. Seperti biasa mereka membalik barisan panjang, dan sepanjang barisan itu ada yang membawa dan tidak membawa semut-semut yang malang tadi. Hingga semua semut yang ada dilantai tidak bersisa.

Saya tidak tahu apa yang akan mereka lakukan pada kawan-kawan mereka yang mati tadi, tetapi saya mengambil hikmah sore menjelang malam itu, bahwa mereka pun mengurusi golongan mereka yang kurang beruntung dalam kehidupan, mereka yang meregang nyawa saat berjuang untuk hidup, tega sekali jika ada manusia yang membiarkan begitu saja manusia lainnya yang kurang beruntung.

Meminjam kata dari Anies Baswedan, bahwa saat ini bukan saja urun angan yang kita perlukan, bisa anda bayangkan bukan jika semut-semut tadi hanya urun angan, tetapi mereka bertindak memilih untuk turun tangan mengambil kawan mereka untuk diistirahatkan di tempat yang semestinya.

Barangkali kesempurnaan akal kita yang membuat kita sulit untuk sekedar bertindak demi kemanusiaan

Category: Artikel PHW | Added by: ISMKIWIL3 (07.07.2014)
Views: 101 | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar
Wednesday, 05.23.2018, 5:57 AM
Site menu
Section categories
Artikel PHW [61]
Artikel Institusi [0]
Log In
Search
Site friends
  • Create a free website
  • uCoz Community
  • uCoz Textbook
  • Video Tutorials
  • Official Templates Store
  • Best Websites Examples
  • Statistics

    Total online: 1
    Guests: 1
    Users: 0
    Copyright MyCorp © 2018Create a free website with uCoz