My site HomeSign UpLog In
Home » Articles » Artikel Hasil Kajian » Artikel PHW

Mengapa Berbeda?

 

          Akhir-akhir ini pemberitaan ramai membicarakan perbedaan hasil quick count pemilihan presiden yang dilakukan pada 9 Juli 2014 lalu. Jika pada sebelumnya, masyarakat disibukkan dengan berita black campaign yang mengotori kebersihan pesta demokrasi di tanah air, kini masalahnya berbeda. Dalam sejarah Indonesia, kita bahkan hampir tidak pernah mengalami perbedaan hasil quick count, apalagi untuk sebuah pemilihan se-kaliber pemilihan presiden. Quick count hendaknya bisa menjadi gambaran umum tentang hasil sebuah pemilihan yang telah dilaksanakan, namun bagaimana masyarakat bisa percaya terhadap quick count yang berbeda-beda di setiap stasiun televisi? Di manakah sebenarnya letak perbedaan antarquick count? Bagaimana masyarakat harus menyikapi perbedaan ini?

            Sesuai dengan kaidah statistik, lembaga yang melakukan quick count hendaknya memiliki margin of error yang lebih dari dua persen. Beberapa lembaga survey yang mengeluarkan hasil dengan selisih suara dua persen (atau bahkan kurang) tentu saja tidak bisa dijadikan patokan karena tidak memenuhi kaidah statistik. Terdapat empat lembaga survey yang margin of error-nya tidak lebih dari dua persen, yaitu adalah Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis), Indonesia Research Center (IRC), Lembaga Survei Nasional (LSN), dan Jaringan Suara Indonesia (JSI).

            Memang, apa yang salah dengan nilai margin of error yang kurang dari dua persen? Artinya, ketika capres A dan B memiliki selisih suara hanya dua persen, maka kemungkinan suara bergeser satu sama lain akan menjadi lebih besar. Contoh, capres A memiliki jumlah suara 52 persen dan capres B 48 persen. Terdapat kemungkinan suara tersebut bergeser di mana 52 turun menjadi 50 dan 48 naik menjadi 50 sehingga hasil yang dikeluarkan tidak bisa menjadi kesimpulan yang sesuai dengan kaidah statistik yang berlaku.

            Di sisi lain, terdapat juga lembaga survey yang hasilnya masih bisa dipercaya secara kaidah statistik seperti Litbang Kompas, Center for Strategic and International Studies (CSIS), Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Indikator Politik, Lingkaran Survei Indonesia, dan Radio Republik Indonesia (RRI). Lembaga ini tentu saja memiliki margin of error di atas dua persen.

            Sebenarnya, apa yang menjadi faktor penentu tingkat presisi sebuah hasil hitung cepat? Faktor terbesar tentu saja adalah jumlah Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang digunakan sebagai sampel. Semakin banyak, maka semakin presisi sebuah hasil penghitungan cepat yang dilakukan oleh lembaga survey tersebut.

            Setelah mencakup kedua poin di atas, bukan berarti sebuah lembaga survey dapat begitu saja menyatakan diri bahwa hasil yang mereka peroleh akan 100 persen benar dan sesuai dengan hasil rekapitulasi suara. Masih terdapat kemungkinan hasilnya akan meleset, tergantung dari margin of error masing-masing lembaga survey. Maka dari itu, penting untuk mendeklarasikan margin of error dari setiap hasil yang dikeluarkan lembaga survey.

            Sebenarnya, ada beberapa cara mudah untuk mendeteksi apakah sebuah lembaga survey dapat begitu saja dipercaya oleh khalayak umum atau tidak. Kita bisa saja melihat domain/website yang digunakan oleh LS tersebut, apakah masih merupakan domain gratis seperti blog atau merupakan website pribadi. Yang dimaksudkan di sini adalah, sebuah lembaga survey yang besar tentu saja seharusnya bisa membayar untuk sebuah website pribadi demi kredibilitas lembaga itu sendiri. Kenyataan ini memang tidak berdasarkan ilmu apa pun, tapi tentu saja logika kita seharusnya berjalan hingga ke poin ini.

Bukan bermaksud memihak kepentingan golongan tertentu, tapi masyarakat Indonesia dan khalayak luas juga perlu tahu sehingga tidak perlu berlarut-larut dalam permasalahan perbedaan hasil quick count di setiap stasiun televisi. Toh, apapun hasil quick count nya, hasil resmi baru akan dikeluarkan 22 Juli 2014 mendatang. Perbedaan hasil quick count justru dikhawatirkan dapat memicu gejolak beberapa lapisan masyarakat pendukung pihak tertentu jika hasilnya berbeda dengan hasil resmi yang akan dikeluarkan nantinya.

Pemilihan presiden tahun 2014 ini memang menyimpan banyak cerita. Tetap lah ingat untuk menjaga stabilitas internal Negara terkait pemilihan ini. Kalah atau pun menang, kini saatnya kita percaya pada siapa pun yang terpilih, semoga bisa amanah dalam mengemban tugas Negara dan benar-benar mengayomi rakyat Indonesia sebagaimana mestinya.

“Nasionalis yang sedjati, jang nasionalismenya itu bukan timbul semata-mata suatu copie atau tiruan dari nasionalisme barat akan tetapi timbul dari rasa tjinta akan manusia dan kemanusiaan” 
- Soekarno, Di Bawah Bendera Revolusi

 

Sumber: wawancara Kompas.com dengan Manajer Riset Puskapol FISIP UI, Dirga Ardiansa

 

 

 

             

 

Category: Artikel PHW | Added by: ISMKIWIL3 (07.14.2014)
Views: 102 | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar
Wednesday, 05.23.2018, 5:55 AM
Site menu
Section categories
Artikel PHW [61]
Artikel Institusi [0]
Log In
Search
Site friends
  • Create a free website
  • uCoz Community
  • uCoz Textbook
  • Video Tutorials
  • Official Templates Store
  • Best Websites Examples
  • Statistics

    Total online: 1
    Guests: 1
    Users: 0
    Copyright MyCorp © 2018Create a free website with uCoz