My site HomeSign UpLog In
Home » Articles » Artikel Hasil Kajian » Artikel PHW

Merajut Impian

Sejatinya, sosok tangguh tidak terbentuk secara instan namun melalui serangkaian perjuangan meneguk segala realita yang ada, dengan kesabaran dan keikhlasan lalu melampauinya dengan ketegaran. 

Ketika memilih, memutuskan, dan mengarungi dunia yang membahas apapun tentang manusia, konsisten adalah jawaban pada pilihan ini. Manusia dengan segala detailnya yang begitu rumit, siapa tidak takjub? Apalagi setelah mempelajari strukturnya baik yang kasat mata maupun yang tidak kasat mata, makhluk yang hanya dapat dilihat melalui mikroskop cahaya maupun mikroskop elektron. Ini baru dari satu aspek yakni struktural, berkenalan dengan kawan-kawan baru dengan nama latinnya yang begitu indah, mulai dari korona radiata sampai crista iliaka dan masih banyak lagi. Hal ini kadang membuat sosok yang berkesempatan untuk belajar dan memahami akan hal itu meneteskan bulir-bulir air mata karena begitu takjub dengan ciptaan Allah yang begitu indah setiap detailnya, pergerakannya, fungsinya, sampai akhirnya tidak bisa berkata-kata lagi karena ini luar biasa!. Puji syukur kepada Allah yang Maha Penyayang karena memberikan kesempatan istimewa yang belum tentu semua orang bisa mengetahuinya. Keunikan yang khas dari masing-masing struktur membuat imajinasi seketika di hentikan untuk di ihibisi mengkorelasikan pemikiran dan realita.

Ini nyata adanya, di hadapan mata ini telah disuguhkan struktur yang ada dalam raga ini, dan ini strukturnya! Setiap mikronnya pun begitu detail. Ini komponen dalam raga ini, manusia.

Makna yang diambil dari kesempatan ini adalah untuk selalu bersyukur, betapa kita sebagai mahkluk-Nya dibuat begitu kaya dengan serumit-rumit struktur yang dirangkaikan untuk dapat hadir di dunia, sebagai sosok yang nyata adanya, yang terlihat dipandang mata, yang terasa bila disentuh, yang suaranya terdengar untuk alam, yang dapat memonitor pergerakan dirinya mengarahkannya untuk menjadi sosok yang dirindukan kontribusinya untuk dunia. Tapi pada akhirnya, semua komponen struktural yang menunjang eksistensi manusia akan beristirahat panjang dari kerja tanpa henti dan tanpa disadari. Dan itulah yang akan semuanya hadapi. Inilah yang seharusnya membuat kita untuk senantiasa bersyukur. Dan semakin bersyukur, karena setiap detiknya kita sebagai manusia selalu disuguhkan kenikmatan, yang terkadang banyak dari kita tidak sadar akan nikmat itu.

"Maka yang mana satu di antara nikmat-nikmat Tuhan kamu, yang kamu hendak dustakan ?” (Q.S Ar-Rahman : 13)

Penggalan beberapa paragraf pembuka diatas tadi sedikit menjabarkan urgensi kita sebagai manusia untuk senantiasa bersyukur mengingat posisi kita yang setiap detiknya selalu disertai nikmat dari Allah. Namun dalam menjalani roda kehidupan, ibarat denyut jantung, denyut jantung ini memiliki pola ritme yang tidak selalu datar namun berfluktuasi, naik, turun, berombak, bergejolak, menyesuaikan skala fisiologisnya dan momen itu mampu direkam melalui alat hasil pemikiran manusia yakni elektrokardiogram. Seperti itulah analogi dari kehidupan kita yang tidak akan datar begitu saja, ada saatnya terjadi lemparan memantul ke atas, maupun turunan yang curam ke bawah yang dimana segala aktivitas duniawi kita direkam oleh catatan malaikat.


Saat ini sebagai manusia kita tengah berada dijalan kita masing-masing, berada pada suatu titik dimana dengan usaha, pemikiran dan doa akan merangkaian koordinat dinamika kontribusi kita sebagai hamba Allah yang senantiasa berkeinginan merajut jejaring Hablum Minallah dan Hablum Minannas. Menempatkan diri sesuai dengan kostum yang di inginkan, baik sebagai akademisi, klinisi, politisi dan lain-lain. Dengan tekad ingin keadaan di sekitar ini menjadi lebih baik. Tentunya semua itu disertai dengan niatan hanya untuk ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah.

Memilih itu terkadang mudah namun bertahan pada pilihan itu tidak semudah memilih. Tapi estafet akan tetap ada, ada waktunya tongkat estafet itu berada pada genggaman tangan ini, sebagai pertanda waktunya diri ini untuk berlari meraih sejuta mimpi tersebut. Perlu perjuangan yang ekstra untuk belajar berbagai literatur dan
pemahaman akan suatu hal yang kelak menjadi mimpi kita tersebut. Jelas perjuangan yang ekstra diperlukan untuk menebar manfaat yang ekstra juga pada sekeliling kita.
Pelajaran itu tak semudah yang orang lain lihat, karena subjektifitas dan relatifitas persepsi. Sehingga cukuplah diri ini dan Allah yang tahu bagaimana kondisi diri ini, bagaimana liku arus perjalanan yang dilewati diri ini untuk menggapai suatu tujuan, yaitu impian kita tersebut.

Segelintir jalan kehidupan ini jangan dibandingkan dengan jalan kehidupan orang lain. Karena jelas akan berbeda, sudah jelas juga semuanya telah diukur sesuai kadar kemampuan diri ini masing-masing. Bisa saja yang lain jalannya lebih berliku bahkan terperosok namun tetap saja tersenyum ikhlas, yang sering dianggap senyum sebagai sebuah otomatisasi, padahal mekanismenya tidak semudah itu, beberapa otot mimik dikerahkan untuk melukiskan derajat senyuman. Betapa sempurnanya Allah menciptakan regio facei kita sedetail itu. Subhanallah. Namun bisa saja diri ini, iya diri ini seakan tak kuasa dan dengan mudahnya meneteskan air mata karena merasa seolah-olah beban itu sudah tidak sanggup ditopang lagi. Betapa mirisnya melihat perbedaanyang begitu signifikan anatara berbagai cara manusia menghadapi masalahnya.

Jangan katakan “Ya Allah, hamba ini memiliki masalah yang besar.”
Tapi katakanlah “Halo masalah, aku punya Allah yang Maha Besar.”

Dalam rangkaian mencapai impian, sebenarnya jika sudah ada tekad, visi, usaha dan disertai keyakinan bahwa campur tangan Allah akan selalu menyertai maka peluang menggapai impian itu ada. Sadar akan berlimpahnya nikmat Allah yang memberi kecukupan bagi hamba-Nya. Menerima akan jalan kehidupan yang lengkap dengan fluktuasinya. Dan berupaya tegar dan ikhlas menerima ketentuan Allah. Optimis dan tidak berputus asa akan kehidupan ini, yakinlah Allah akan memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya sesuai dengan usaha dan doanya.

Setelah melampaui semuanya kelak, tuliskanlah jutaan kisah dengan pena, dengan tinta-tinta emas. Ceritakanlah bagaimana pengalaman untuk menggapai bintang-bintang
itu, walaupun berulangkali diterbangkan kesana-kemari oleh angin, angin yang gemar memberikan tantangan bagi pejuang supaya tidak terjatuh. Pejuang di sini adalah kalian, sahabat. Kalian, hamba Allah yang tengah berdinamika untuk menggapai impian..

Category: Artikel PHW | Added by: ISMKIWIL3 (08.23.2014)
Views: 75 | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar
Monday, 11.19.2018, 2:55 AM
Site menu
Section categories
Artikel PHW [61]
Artikel Institusi [0]
Log In
Search
Site friends
  • Create a free website
  • uCoz Community
  • uCoz Textbook
  • Video Tutorials
  • Official Templates Store
  • Best Websites Examples
  • Statistics

    Total online: 1
    Guests: 1
    Users: 0
    Copyright MyCorp © 2018Create a free website with uCoz