My site HomeSign UpLog In
Home » Articles » Artikel Hasil Kajian » Artikel PHW

Om, Kenapa Hormatilah Orang yang Berpuasa Bukan Hormatilah Orang yang Tidak Berpuasa ?

Sore itu ada anak kecil yang tiba-tiba menghampiri saya, dengan mendongak ke atas ia penasaran tanya ke saya.

“Om, kenapa kita harus menghormati orang yang sedang berpuasa, bukan kah kita perlu mneghormati juga orang yang sedang tidak berpuasa ?” ucapnya belepotan tak sempurna dengan usia nya yang menurutku belum pantas menanyakan hal seperti ini.

Sudah hampir satu minggu saya pulang ke kampung halaman di pinggiran kota pekalongan, kembali menikmati pemandangan hijaunya kelapa-kelapa yang kini semakin tua dan semakin kurus batang nya, semakin tinggi memang batang kelapa itu menantang langit, tapi waktu tak bisa membohongi setiap orang yang melihat nya.

Pemikiran di sini berkembang pesat pula, gumamku dalam hati. Bagaimana saya tidak berpikiran seperti itu, bahkan anak kecil memiliki pertanyaan seperti itu. Bahkan dulu saat saya seusianya belum terlintas sedikitpun pemikiran seperti itu, mungkin saat saya menginjak SMA bisa saja terlintas pemikiran seperti itu. Tetapi ini terlalu dini untuk bertanya demikian.

“siapa namamu dek ?” tanyaku sambil duduk jongkok agar ia tak perlu lagi susah-susah mendongakkan kepalanya ke atas. Saya memang tak cukup tinggi untuk mahasiswa seusia saya, tetapi di desa saya ini, cukuplah sudah tinggi yang saya miliki, barangkali ini menggambarkan bagaimana asupan gizi yang ada di sekitar desa ini selama puluhan tahun lalu.

“aku Azzam om, masak om lupa, kan kita udah pernah bertemu di halal bi halal tahun lalu” Oh iya, hampir saja lupa dengan anak kecil ini, sautku dalam hati tercekat dengan jawaban anak ini. Saya memang sudah pernah bertemu dengan anak ini hampir setaun lalu, saat lebaran tahun lalu.

Beberapa tahun terakhir ini memang lahir banyak anak baru yang tergabung dalam keluarga besar keluarga saya, mereka pun turut datang dalam berbagai acara keluarga besar, termasuk halal bi halal tahun lalu. Saking banyaknya sampai saya lupa nama-nama mereka satu per satu. Saya sadar bahwa waktu terus berjalan dan saya semakin berumur.

Seakan baru beberapa tahun lalu saat Ayah memintaku mandi ketika aku sedang menonton film DragonBall yang hanya beberapa kali dalam setahun bisa ku nikmati, sekolah MII libur hari Jumat, bukan minggu. Ya, pagi itu hari minggu, entah halal bi halal yang ke sekian kalinya, yang saya tau itu saat terakhir saya mengikuti halal bi halal lengkap dengan Ayah saya.

“oh iya, om ingat…Azzam udah besar ya sekarang ? udah kelas berapa ?” jawabku basa-basi terhadap anak yang tiba-tiba muncul didepan rumah ini. Pertanyaan yang sering sekali ditanyakan padaku saat seusia dengan Azzam. Barangkali pertanyaan basa-basi itu sudah membekas betul dalam setiap jengkal ingatan saya, sehingga otak memerintahkan untuk bertanya hal sama kepada anak seusia waktu itu, seakan tak ada pertanyaan lain di dunia ini.

Suatu sikap memang dibentuk bertahun-tahun, barangkali sikap spontan yang dalam agama islam sering disebut akhlak itu juga tak lain dan tak bukan adalah hasil dari belasan tahun saya bercengkerama dengan lingkungan yang saya tempati. Tertular dengan cepat oleh teman-teman dekat saya semasa kecil, remaja dan dewasa. Mereka membentuk pemikiranku, sikapku, mimpi-mimpiku saat ini, entah saya tak tahu saat ini mereka semua berada di mana, tetapi semoga mereka baik-baik saja di sana.

“Iya om azzam udah besar, tapi dijawab dulu pertanyaan nya om..” jawab nya merengek kepadaku, seakan aku punya jawaban yang mampu memuaskan keingintahuannya.

“Tadi siang Azzam jalan-jalan sama Ibu, terus lihat ada orang masuk ke warung yang di tutupi oleh kelambu besar, sampe Azzam ga bisa liat isi dalam warung nya karena tertutupi, nah diseberang jalan ada tulisan besar yang kata Ibu bunyinya Hormati orang yang sedang berpuasa” Ia polos menjelaskan padaku apa yang dilihat nya siang tadi.

Baca-bacan Qur’an yang diperdengarkan dari masjid sudah mulai terdengar. Suatu kebiasaan di desa saya sekitar setengah jam sebelum adzan maghrib ada seperti itu, kami menyebutnya qiro’ adzan maghrib. Semoga bisa tuntas menjelaskan ke anak ini, pikirku.

Sungguh kalau Azzam mengamati, tak perlu jauh-jauh dia pergi ke luar desa untuk menemukan fenomena tersebut, bahkan disekitar tempat kita bertatap muka pun sangat mudah ditemukan. Warung-warung makan saat berpuasa tidak boleh buka, karena untuk menghormati orang yang berpuasa, menghormati bulan ramadhan katanya.

Bahkan ada warung yang tetap memaksa buka, lalu di datangi oleh sekelompok masyarakat yang mengatasnamakan pemuda masjid untuk memaksa warung tersebut tutup, alasannya sederhana, sangat sederhan, karena Ramadhan harus dihormati, dan menghormati Ramadhan adalah menghormati ibdaha yang ada di dalam nya, termasuk puasa.

Sudah menjadi adat-istiadat saat ada orang yang berpuasa, maka tidak boleh makan di sembarang tempat, orang yang tidak berpuasa harus makan di tempat yang tersembunyi, dimana orang lain tak bisa melihat nya. Kenapa harus melakukan hal repot seperti itu ? masih sama, menghormati bulan Ramadhan, ada orang yang sedang berpuasa.

Sejak kecil kami sudah diajarkan, makan didepan orang berpuasa itu dilarang dan berdosa, meskipun tanpa bermaksud untuk member iming-iming kepada mereka yang berpuasa. Jajan di warung saat berpuasa pun seakan perbuatan haram yang melanggar agama.

“Azzam, yang mereka lakukan sudah benar menurut adat-istiadat atau perilaku kebiasaan yang ada di sekitar sini, namun ada saat nya masyarakat kita memahami menghormati bulan ramadhan sesungguhnya, arti dari toleransi yang sering mereka katakana” jawabku untuk membuka penjelasan lebih lanjut.

“azzam, saling menghormati adalah sikap yang selalu dijunjung oleh Rasulullah, ada saatnya masyarakat kita tahu lalu merubah sikapnya untuk menghormati baik yang berpuasa dan tidak berpuasa, menghormati keduanya. Tetapi mungkin saat ini belum terjadi hal tersebut” aku mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskan kepadanya, tetapi tak kutemukan juga kalimat yang mudah dipahami itu.

“azzam pernah dengar pepatah menghormati yang tua dan menyayangi yang muda ? “ tanyaku sambil memandang kearah mata yang belum mengenal dosa itu. Ia menggelengkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaanku.

“apakah Azzam menghormati Om sebagaimana yang diajarkan di sekolah Azzam ?” Iya mengangguk, entah ia tahu benar tentang makna menghormati itu, setidaknya dia tahu jawaban yang saya butuhkan sore itu.

“seperti itulah toleransi azzam, Om menyayangi azam karena azam belum banyak belajar dan masih sedikit dosa dibandingkan dengan Om, lalu Azzam pun menghormati Om karena Om lebih dulu dilahirkan didunia ini, sehingga Om lebih dulu belajar dibandingkan Azzam” sambil memegang bahu nya aku tatap lekat ke wajahnya yang mungil, saya melihat rona wajah anak kecil itu berubah, mungkin ia sudah cukup puas dengan jawabanku, aku harap demikian.

“Belajarlah yang rajin sehingga Azzam bisa belajar lebih banyak” tutupku dengan wajah was-was, semoga anak ini tidak salah menafsirkan apa yang saya jelaskan.

Tak selang beberapa lama, qiro’ adzan maghrib pun sudah berhenti, mengisyaratkan kepada kami untuk segera pulang ke rumah, waktu puasa hari itu sudah usai. Hari ini sudah minggu akhir bulan puasa, sehingga masjid-masjid pun tidak lagi mengadakan takjil di pengajian sore nya.

-o-

Category: Artikel PHW | Added by: ISMKIWIL3 (06.30.2014)
Views: 91 | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar
Monday, 11.19.2018, 2:56 AM
Site menu
Section categories
Artikel PHW [61]
Artikel Institusi [0]
Log In
Search
Site friends
  • Create a free website
  • uCoz Community
  • uCoz Textbook
  • Video Tutorials
  • Official Templates Store
  • Best Websites Examples
  • Statistics

    Total online: 1
    Guests: 1
    Users: 0
    Copyright MyCorp © 2018Create a free website with uCoz