My site HomeSign UpLog In
Home » Articles » Artikel Hasil Kajian » Artikel PHW

Ramadhan Telah Pergi, Hilal Pun Datang Menyambut Idul Fitri

Lebaran tahun ini tak jauh berbeda dengan lebaran tahun-tahun sebelumnya. Tak ada yang ritual khusus yang menjadikannya berbeda dan spesial. Semua masih sama, hanya saja orang-orang disekitar kita berganti dan berbeda, beberapa di antara tetangga dan saudara kita ada yang datang dan pergi, entah pergi untuk kembali atau memang pergi untuk selamanya. Namun, euphoria kegembiraan dari kita juga tak pernah berbeda, bahkan cenderung selalu mengalami peningkatan seiring dengan usia, walaupun ada yang mengalami penurunan dengan menyikapi lebaran biasa-biasa saja seperti hari-hari lainnya.


Malam lebaran seakan malam pesta yang harus dirayakan dengan pesta pora, takbir keliling dimana-mana yang menyebabkan macet dan mengganggu refleksi sunyi berakhirnya ramadhan, bulan agung yang pernah diceritakan oleh Rasulullah. Ada yang memilih untuk berdiam diri di rumah sambil takbir dengan mulut komat-kamit, sebagian memilih di musholla dan masjid terdekat, ikut ngurip-nguripi tempat ibadahnya, yang barangkali sudah mulai sepi pengunjungnya. Sebagian pula memilih untuk memadati jalan raya untuk ikut takbir keliling. Mereka yang memenuhi jalanan untuk takbir keliling adalah anak muda, rentang usia produktif. Mereka adalah sedikit ramalan yang memberikan kepada kita gambaran masa depan kita dalam tahun-tahun mendatang. Jika kita tak melakukan perubahan apapun, maka ramalan itu akan semakin menjadi kenyataan, tapi kita masih bisa mengubahnya.

Momen lebaran memang tak bisa di gambarkan dengan kata-kata, saya saat ini kehilangan berbagai kata untuk menuliskan pikiran yang terlintas di malam ini, terlalu padat jalur lalu lintas di kepala saya, memutar kembali memori yang entah dipanggil oleh siapa, rekaman ingatan jauh hingga waktu kecil dulu. Masa yang bagi saya adalah ingatan pertama saya, ingatan saat masa kecil.

Saya sadar meskipun bagi saya lebaran ini tetap sama, tapi yang saya amati banyak orang berubah menjadi melankolis malam ini. Berbagai sms dan chat dengan bahasa yang mendayu-dayu dikirimkan ke semua teman yang ia kenal, salah satunya ke saya, mulia tujuan pengiriman pesan ini, mengucapkan selamat lebaran dan tentunya memohon maaf lahir dan batin, suatu tradisi yang sudah mengakar kuat dalam budaya Nusantara.
Setidaknya budaya ini akan bertahan dalam puluhan abad mendatang. Tak lupa juga post dalam berbagai media sosial yang kini semakin merebak, saya kira semua manusia pada malam ini menjadi lemah lembut dan pemaaf, mungkin saja ini saat tepat untuk meminta maaf, mengakui kesalahan yang sulit untuk terakui pada hari lainnya.


Momen lebaran memang momen yang tepat untuk kembali menjalin persaudaraan. Mereka yang telah membuat jarak selama sekian tahun, kembali direkatkan oleh Allah dalam momen lebaran. Mereka yang lidahnya kaku untuk meminta maaf, merasa lancara untuk meminta maaf. Mereka yang keras kepala untuk member maaf, hatinya tia-tiba luluh pada momen lebaran. Ini berkah lebaran. Tak terasa memang tiba-tiba saja lebaran, dan kalimat seperti ini seringkali terulang pada masa mendatang, dan pula sudah diucapkan pada tahun lalu. Waktu memang terasa lebih cepat selama satu bulan, kita pun menjelma menjadi berbagai rupa untuk menyikapi hal ini.

Sering kita hanya mengingat awal dan akhir suatu peristiwa, seperti Ramadhan ini, di awal kita pura-pura rindu dengannya, di akhir pun kita seakan sedih di tinggalnya, dan memohon untuk dipertemukan dengan ramadhan tahun depan, kita terkadang lupa untuk menjalani prosesnya. Padahal proses selama ramadhan sebulan lalu yang akan menentukan 11 bulan yang lain.

Semoga kita termasuk dalam golongan yang benar-benar merindu ramadhan. Semoga Allah berkenan untuk mempertemukan kita dengan ramadhan tahun berikutnya dan Merestui puasa kita selama sebulan lalu, sholat-sholat kita, renungan dalam sujud kita, dzikir kita yang membahasi bibir kita, lalu menjaga segala amalan ini sebagai bekal untuk menghadapi setahun mendatang untuk mempersiapkan ramadhan berikutnya.
Malam lebaran memang malam yang membahagiakan, membahagiakan untuk mereka yang tidak menyia-nyiakan ramadhan yang telah terlewati.


Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435 H. Mohon maaf lahir batin.
Semoga Allah menerima amalanku dan amalanmu. 

Category: Artikel PHW | Added by: ISMKIWIL3 (07.28.2014)
Views: 62 | Rating: 0.0/0
Total comments: 0
avatar
Wednesday, 05.23.2018, 6:19 AM
Site menu
Section categories
Artikel PHW [61]
Artikel Institusi [0]
Log In
Search
Site friends
  • Create a free website
  • uCoz Community
  • uCoz Textbook
  • Video Tutorials
  • Official Templates Store
  • Best Websites Examples
  • Statistics

    Total online: 1
    Guests: 1
    Users: 0
    Copyright MyCorp © 2018Create a free website with uCoz